Pekanbaru dalam kondisi gawat....Asap dimana2..Di luar rumah, di dalam
rumah sampai k kamar juga masuk..walo udah ditutup
rapat-rapat...ckckck..
Gokil juga nih asap... Pnatang mundur mencari celah2 supaya bisa
merajalela di setiap ruangan.... Ga ad lagi tempat yg aman... Ampe
pekanbaru di beri predikat kota tak layak huni.... hadehhh... Kasian
bener lah kota kelahiran saya nih.... Bela2in balik ke
Pekanbaru..menetap dsni setelah sekian lama berjuang di perantauan
org... eee.. malah di sambut dengan ASAP...
Jadi berasa di usir secara halus... wkwkwkwk....
Berita yg di dapat hr ni.. amazing banget gitu loh....
PEKANBARU (RiauInfo) -
Hari ini, Rabu (12/3/2014) alat ukur ISPU (Indeks Pencemar Standar
Udara) di depan Kantor Walikota Pekanbaru kembali menunjukkan status
BERBAHAYA. Hal ini diamati setelah seharian kabut asap semakin menebal
dari siang hingga sore hari.
Status berbahaya yang ditampilkan pada alat ukur ISPU hari ini untuk polutan PM10 (partikel debu) adalah pada angka sekitar 400 μg/m3, suatu angka yang sangat berbahaya untuk kesehatan manusia.
Alat ukur ISPU yang dipasang di beberapa tempat di Kota Pekanbaru
mengukur beberapa jenis zat polutan, yaitu Partikel Debu dengan diameter
< 10 mikron (PM10), Sulfur Dioksida (So2), Karbon Monoksida (CO),
O3, Nitrogen Dioksida (NO2). Angka normal untuk kadar polutan ini adalah dibawah 50 μg/m3.
Ini berarti zat berbahaya yang berada diudara yang dihirup oleh
masyarakat Kota Pekanbaru adalah 800% diatas kadar normal. Ini sungguh
membahayakan.
Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Kesehatan sudah menghimbau
masyarakat agar tidak beraktifitas di luar rumah. Beberapa
spanduk-spanduk peringatan bahaya sudah dipasang di beberapa
persimpangan jalan. Bahkan Dinas kesehatan sudah menjamin untuk
gratiskan biaya kesehatan sebanyak 21 ribu jiwa penderita infeksi
saluran pernafasan atas (Ispa) dan penyakit lainnya yang disebabkan
tercemarnya udara dengan asap kebakaran lahan.
“Kami sudah menginstruksikan agar pasien penderita penyakit dampak
kabut asap ini tidak dikenakan biaya ketika berobat di puskesmas maupun
rumah sakit umum,” kata Kepala Dinkes Riau, Zainal Arifin kepada pers di
Pekanbaru, beberapa waktu yang lalu.
Sebenarnya status ‘berbahaya’ ini adalah yang kedua setelah terjadi
status yang sama pada hari Sabtu yang lalu. Kejadian tersebut membuat
Walikota Pekanbaru bergerak cepat dengan menginstruksikan seluruh
sekolah yang ada di Kota Pekanbaru untuk meliburkan siswanya selama 3
hari dan melarang seluruh siswa keluar rumah akibat asap.
Untuk mengatasi asap, harapan masyarakat adalah dengan turunnya
hujan. Sudah dilakukan upaya oleh pemerintah Provinsi melalui TMC,
bahkan dibantu dengan sholat istigso, namun hujan belum juga turun. (*)
Klo kaya bgni terus....alamat ngungsi dah.......................
Rabu, 12 Maret 2014
Senin, 10 Maret 2014
TANTANGAN GURU DI ERA DIGITAL
Adakah Anda memperhatikan kelahiran anak pertama di rumah sakit, akhir-kahir ini? Jika belum, lakukanlah! Anda akan melihat fenemena baru yang terjadi disana, sebagai dampak dari kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Saya menemukan beberapa kali, orang
tua si bayi yang baru lahir tersebut melakukan hal yang sangat berbeda
dengan apa yang saya lakukan terhadap kelahiran anak pertama saya tiga puluh tahun yang lalu. Sekarang, sang ayah, begitu anaknya lahir mengambil hand phone (HP) dan mengirimkan Short Message Service
(SMS) untuk sanak saudara, karabat dan kenalan lainnya. Inti pesannya
adalah memberitahukan bahwa anaknya telah lahir dan dilengkapi dengan
data kuantitatif berupa berat, panjang dan data lainnya. Dalam hitungan
detik, teks dari pesan tersebut sudah sampai ke si alamat. Sang ibu
lain lagi, sambil memeluk bayinya mengambil HP dan membidik anaknya
untuk difoto. Foto tersebut dikirim juga ke karabat, saudara dan
kenalannya. Juga dalam hitungan detik, image dari foto tersebut sudah
dapat dilihat oleh penerimanya. Yang ingin saya sampaikan dari kasus ini
adalah bahwa anak begitu lahir bahkan sebelum lahir di era ini sudah
melihat kemajuan TIK. Perlu dicatat bahwa bayi ini dalam selang waktu
enam tahun yang akan datang akan bersekolah dan berintekraksi dengan
guru. Bayangkan apa yang akan terjadi bilamana gurunya tidak mengikuti
kemajuan TIK bahkan masih gagap teknologi, tak bisa komputer dan tak
familiar dengan sistem digital.
Oleh
sebab itu sekolah sebagai institusi pencetak generasi yang hidup dimasa
mendatang harus mempunyai keperdulian terhadap perkembangan yang
terjadi tersebut. Jika tidak, maka anak-anak yang kita didik akan
tertinggal dengan perkembangan zaman karena perkembangan TIK tidak
mempunyai toleransi. Pilihannya hanya dua, yaitu mampu beradaptasi dan
mengadopsi atau tertinggal ke belakang. Guru sebagai ujung tombak di
sekolah pada era ini dan era selanjutnya ditantang untuk melakukan
akselerasi terhadap perkembangan TIK yang dapat mengubah infromasi baik
yang tadinya berwujud tulisan, gambar, maupun suara menjadi wujud
kumpulan lambang bilangan 0 dan 1, yang sering disebut digital. Dalam
bentuk baru semacam ini informasi tersebut dapat diproses dengan
peralatan yang namanya processor yang terdapat pada mesin komputer.
Sebagian besar bahan ajar dimasa depan akan berbentuk digital, sehingga
kertas tidak diperlukan lagi.
Proses
pembelajaran mengaplikasikan TIK yang berbasis internet dengan bahan
ajar digital menyebabkan terjadinya pergeseran proses belajar mengajar
(PMB) dari yang biasa dilakukan guru. Rosenberg menyebutkan lima
pergeseran tersebut, yakni: pergeseran dari pelatihan ke penampilan,
pergeseran dari ruang kelas ke dimana dan kapan saja PMB dapat
dilaksanakan, pergeseran dari kertas ke digital dan online sehingga paperless atau tanpa kertas, pergeseran dari fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja atau populer dengan sebutan network, dan dari waktu siklus ke waktu nyata.
Disamping
itu juga terjadi pergeseran paradigma PBM yang dianut sekarang kepada
konstruktivisme. Jika selama ini proses belajar di sekolah lebih
ditandai oleh proses mengajar guru melalui ceramah dan proses belajar
peserta didik melalui menghafal. Pengawasan terhadap keberhasilan
mengajar selama ini lebih didasarkan pada tingginya ‘daya serap’ dalam
pengertian yang sangat sumir akan ditinggalkan. Guru bukan lagi sebagai
sumber belajar utama yang menyampaikan informasi atau bahan ajar dimana
peserta didik dianggap sebagai gelas kosong yang siap diisi. Paradigma
baru, peserta didik dianggap telah memiliki pengetahuan awal, dan tugas
guru hanya mengkonstruksinya saja. Peserta didik dianalogikan tanaman
yang sudah punya potensi untuk tumbuh dan berkembang, sedangkan guru
hanya berfungsi sebagai penyiram yang membantu tanaman tumbuh dan
berkembang dengan baik. Akibatnya, peran guru dalam mengajar berubah
dari pengajar menjadi fasilitator dengan model pembelajaran yang
berpusat pada siswa (student center), tidak lagi berpusat pada guru (teacher center).
PBM mendatang bersifat memandirikan siswa dalam mengeksplorasi rasa
keingintahuan mereka dengan pendekatan memecahkan masalah yang diberikan
guru.
Konsekuensi
dari bergulirnya paradigma konstruktif ini berdampak terhadap sumber
daya belajar, diantaranya perpustakaan sekolah dan sumber daya fasilitas
teknologi informasi sekolah termasuk fasilitas internet. Kita tidak
menutup mata akan kondisi sekolah saat ini yang sangat memprihatinkan.
Sekolah dihadapkan pada kenyataan bahwa sumber belajar yang ada di
perpustakaan sangat terbatas. Koleksi buku dan compact disc
(CD) yang dimiliki sekolah tidak memadai bahkan kalaupun ada sudah
usang atau kadaluarsa. Pembaharuan koleksi buku dan CD tentu memerlukan
biaya yang sangat besar dimana sekolah tidak akan sanggup membiayainya.
Kondisi ini tidak harus ditangisi, tetapi dengan kreatifitas dan inovasi
guru terutama dengan menggunakan TIK dalam proses pembelajaran akan
dapat membantu mengurangi permasalahan tersebut.
Alasannya, percaya atau tidak telah terjadinya revolusi pengetahuan dimana dunia sudah semakin go digital. Makin banyak buku yang telah dirubah ke dalam format digital book dan dengan mudah diakses melalui situs seperti Google Scholar dan Questia.
Bahkan ada satu proyek besar untuk pendigitalkan buku yang disebut
dengan nama project gutenberg. Proyek tersebut memiliki misi utama
mendigitalkan buku-buku yang sudah berstatus public domain. Juga sudah seharusnya pemerintah, termasuk pemerintah provinsi, kabupaten dan kota untuk membiayai penerbitan electronik book (e-book) sebagai buku pedoman bagi
peserta didik terutama sekali bagi jenjang sekolah dasar dan sekolah
menengah yang dapat diakses dengan mudah dimana saja dengan fasilitas
internet. Dengan adanya buku digital tersebut akan memudahkan mencari
informasi sebagai bahan ajar secara cepat dengan mengakses mesin
pencari, seperti situs-situs Google dan Yahoo! Selain itu ada wikipledia
yang merupakan sarana media informasi yang melimpah mengenai berbagai
hal. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa wikipledia adalah
ensiklopedia terbuka yang dapat diakses dengan mudah oleh peserta didik.
Bukan hanya mengakses, peserta didik bisa juga mengisikan (meng-upload) hal-hal baru sehingga informasi dapat disebar yang tidak hanya lingkup kelas, tetapi lingkup dunia.
Keuntungan
lain bagi guru adalah kesanggupan komputer untuk menyajikan teks
nonsekuensial, nonlinear, dan multidimensional dengan percabangan tautan
dan simpul secara interaktif. Tampilan tersebut akan membuat peserta
didik lebih leluasa memilih, mensintesa, dan mengelaborasi pengetahuan
yang ingin dipahaminya. Hal ini dapat mengakomodasi mereka yang lamban
menerima pelajaran. Komputer tidak pernah bosan, sangat sabar dalam
menjalankan instruksi seperti yang diinginkan. Kondisi ini sungguh
sangat berbeda sekali dengan guru yang tidak mungkin sabar menjelaskan
hal yang sama terus menerus pada peserta didik yang daya cernanya
termasuk papan bawah. Selain itu peserta didik yang pintar dan cepat
mengerti dapat terus langsung melanjutkan materi pelajarannya tanpa
perlu dihalangi dan distandarisasi sama dengan peserta didik lainnya.
Inilah iklim afektif dari pemanfaatan TIK dengan bahan ajar digital.
Pengelolaan
kelas akan menekankan pada aspek pengaturan lingkungan dimana sangat
berbeda dengan pembelajaran biasa yang lebih menekankan aspek mengelola
atau memproses materi pelajaran. Pengelolaan
kelas memungkinkan mengkondisikan kelas yang optimal bagi terjadinya
proses belajar, yang meliputi: pembinaan, penghentian perilaku peserta
didik yang menyeleweng, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas secara
tepat waktu, dan penetapan norma kelompok yang produktif. Pengelolaan
kelas ini mencakup pengaturan peserta didik dan fasilitas. TIK sendiri
juga termasuk dalam pengaturan fasilitas untuk menunjang iklim
konduksif, baik iklim kognitif maupun afektif dan skill. Iklim skill
adalah yang paling dominan tercapai karena dapat meningkatkan kemampuan
menulis, berkomunikasi dan mengakses pengetahuan dengan cepat, mudah
dan tepat.
Transformasi
pengelolaan kelas dari konvensional menjadi kontemporer dengan
mengaplikasikan kemajuan TIK berbasis internet dan materi ajar yang
digital memerlukan kerja keras dan kemauan yang dimotivasi oleh
panggilan jiwa guru tersebut untuk menjadi seorang guru profesional.
Guru harus mampu menggali potensi peserta didiknya yang dapat
teraktualisasi dengan ketuntasan belajar. Tantangan bagi guru. Apakah
guru akan melewati transformasi ini dengan mulus?
Diposkan oleh Nurpit Junus di 19.29
Jangan Menjadi Pendengar Yang Buruk Bagi Anak
Sebagian besar orang tua pendengar yang
buruk bagi anak-anaknya. Benarkah? bila ada suatu masalah yang terjadi
pada anak, orang tua, ia merasa suka menyela langsung menasehati tanpa
mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.
salah satu contoh, anak kita baru saja pulang sekolah mestinya siang ternyata baru pulang sore hari. Kita tidak mendapat keterangan apapun darinya atas keterlambatan tersebut. Tentu saja kita merasa kesal menuggu, sekaligus juga khawatir. Lalu pada saat anak kita sampai dan masih lelah, kita langsun menyambutnya dengan serentatan pertanyaandan omelan. Bahkan setiap kali anak hendak berbicara, kita selalu memotongnya. Akibatnya ia malah tidak mau bicara dan marah pada kita.
Pada saat seperti itu, yang sangat dibutuhkan oleh seorang anak adalah ingin didengarkan terlebih dahulu dan ingin diprhatikan. Keterlambatannya ternyata disebabkan adanya tugas mendadak dari sekolah. Ketika anak tidak diberi
kesempatan untuk berbicara, ia merasa tidak dihargai dan akhirnya dia juga berbalik untuk tidak mau mendengarkan kata-kata kita.
Tips
Jika kita tidak menghendaki hal ini terjadi, maka mulai saat ini jadilah pendengar yang baik. Perhatikan setiap ucapan ceritanya. Ajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menunjukan ketertarikan kita akan persoalan yang dihadapinya. Dengan demi oleh kian, kita mengetahui prmasalahan secara utuh dan benar. ingatlah pesan yang disampaikan oleh Sang Pencipta melalui anggota tubuh kita, yaitu Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut; yang tuhan menghendaki kita dua kali mendengarkan dan satu kali berbicara. Dan jangan dibalik. Berikan kepada anak waktu yang seluas-luasnya untuk mengungkapkan segalanya. Cukup dengarkan dahulu dengan meberi tanggapan antusias dan empati. Tahanlah untuk tidak berkomentar apapun sampai saatnya tiba.
Lalu, kapan saatnya kita berkomentar atau berbicara? Ketika anak mengatakan, "Menurut Papa/Mama bagaimana?" (bidanku.com)
salah satu contoh, anak kita baru saja pulang sekolah mestinya siang ternyata baru pulang sore hari. Kita tidak mendapat keterangan apapun darinya atas keterlambatan tersebut. Tentu saja kita merasa kesal menuggu, sekaligus juga khawatir. Lalu pada saat anak kita sampai dan masih lelah, kita langsun menyambutnya dengan serentatan pertanyaandan omelan. Bahkan setiap kali anak hendak berbicara, kita selalu memotongnya. Akibatnya ia malah tidak mau bicara dan marah pada kita.
Pada saat seperti itu, yang sangat dibutuhkan oleh seorang anak adalah ingin didengarkan terlebih dahulu dan ingin diprhatikan. Keterlambatannya ternyata disebabkan adanya tugas mendadak dari sekolah. Ketika anak tidak diberi
kesempatan untuk berbicara, ia merasa tidak dihargai dan akhirnya dia juga berbalik untuk tidak mau mendengarkan kata-kata kita.
Tips
Jika kita tidak menghendaki hal ini terjadi, maka mulai saat ini jadilah pendengar yang baik. Perhatikan setiap ucapan ceritanya. Ajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menunjukan ketertarikan kita akan persoalan yang dihadapinya. Dengan demi oleh kian, kita mengetahui prmasalahan secara utuh dan benar. ingatlah pesan yang disampaikan oleh Sang Pencipta melalui anggota tubuh kita, yaitu Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut; yang tuhan menghendaki kita dua kali mendengarkan dan satu kali berbicara. Dan jangan dibalik. Berikan kepada anak waktu yang seluas-luasnya untuk mengungkapkan segalanya. Cukup dengarkan dahulu dengan meberi tanggapan antusias dan empati. Tahanlah untuk tidak berkomentar apapun sampai saatnya tiba.
Lalu, kapan saatnya kita berkomentar atau berbicara? Ketika anak mengatakan, "Menurut Papa/Mama bagaimana?" (bidanku.com)
Minggu, 09 Maret 2014
newbie....
Akhirny jadi juga blogny.. setelah mengerjakanny bolak-balik...ternyata bikin blog itu...so easy ( ceuk anak private sayah..). Tau gitu mah, udah dr dulu bikinny...wkwkwkwk
Thanks buat Bapak Nurpit selaku dosen saya yang sudah secara "paksa" menyuruh saya untuk segera membuat blog...
Semoga blog ini banyak manfaatny untuk semua yg mengunjunginy...
Thanks buat Bapak Nurpit selaku dosen saya yang sudah secara "paksa" menyuruh saya untuk segera membuat blog...
Semoga blog ini banyak manfaatny untuk semua yg mengunjunginy...
Langganan:
Komentar (Atom)

